Tampilkan postingan dengan label humanity. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label humanity. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Maret 2010

Sarapan Pagi


Bismillahirrohmanirrohiem
Assalamu'alaikum.wr.wb
Selamat Pagi
Salam Sejahtera.
Pagi, sang Fajar baru saja menyingsingkan rona merahnya di ufuk timur,kicau burung menghiasi pagi nan masih basah oleh hujan yang turun semalam. Lumayan segar udara pagi ini, mending segar setelah di"bersih"kan oleh guyuran hujan semalam.
Pagi ini ga ada agenda penting yang harus aku lakukan,satu2nya agenda hari ini 'nunggu' "warung".
Selepas menikmati sedikit segarnya udara pagi,selepas mandi....teman hidup setia menyediakan secangkir kopi panas dan nasi goreng sarapan pagi.
Sembari menikmati kopi panas, aku buka internet... selepas chek inbox email,aku browsing dan.. gak tahu kok tergerak ingin membuat blog.
Dan.... jadilah aku disini,sekarang ini,dalam keadaan begini..lihat-lihat sana-sini.
Selamat pagi... songsong mentari pagi.. rajut asa diri.
Selamat pagi... langkah awal mengisi hari.
Jangan biarkan mentari berlalu,tanpa arti
Walau begitu..jangan berarti asa putus,seiring tenggelamnya mentari di senja hari.
Karena esok sang Fajar pasti datang lagi...menemani menggapai asa.

Wassalam.

Anak memiliki zamannya



Anak mempunyai jamannya sendiri, rasanya tidak pas untuk mempertentangkan apalagi memaksakan kehendak kepada anak sekarang dg referensi jaman dulu, jamannya bapak,ibu apalagi kakek nenek.
jaman telah berubah dg cepatnya, bahkan sangat cepat berkat kemajuan teknologi, biarkan anak mengembangkan diri menyesuaikan dengan " kemajuan jaman ".
Orangtua boleh bangga dengan masa lalunya, tetapi anak2 tidak boleh terpenjarakan oleh masa lalu, mereka adalah milik masa kini dan masa depan. Bukan milik masa lalu!!!
Anak bukan robot apalagi boneka, mereka adalah sosok pribadi individu yg dinamic

Orangtua hanya sebatas menyiapkan dan menemaninya agar anak2 "mantap" menyongsong dan mengisi jamannya.

namun demikian, anak2 dan termasuk kita sekalian memang tidak boleh melupakan sejarah, apalagi mengkhianatinya.
Oleh karena itulah ada ungkapan "ojo lali sangkan paraning dumadi" , " jangan sekali-kali melupakan sejarah".
Oleh karena itu pulalah, hati2 kita sebagai orang tua untuk tidak meninggalkan terlalu banyak catatan2 buruk dlm sejarah yang akan menjadi bacaan anak2 kedepan.

memang wajib hukumnya anak2 menghormati, ngajeni, dan "mikul duwur" orangtua.

Kewajiban berikutnya setelah menta’ati Alloh dan Rosul-Nya adalah berbakti kepada kedua orang tua, sebagaimana disebutkan dalam hadits :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ ص قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ ؟ قَالَ : الصَّلاَةُ عَلَى مِيْقَاتِهَا , قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ , قُلْتُ : ثُمَّ أَيٌّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Dari ‘Abdulloh bin Mas’ud ra : “Aku bertanya kepada Rosululloh saw : “Amalan apakah yang paling utama ?” Beliau menjawab : “Sholat tepat pada waktunya.” Aku bertanya : “Kemudian apa ?” Beliau menjawab : “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya : “Kemudian apa lagi ?” Beliau menjawab : “Berjihad di jalan Alloh.” ( HR. Ahmad, Al-Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )

tetapi bukan berarti kita orang tua berhak menuntut dan memaksa anak untuk menghormati kita. Penghormatan kpd orangtua akan muncul sendiri karena itu memang fitrah, sepanjang orangtua memang "layak" dimata anak2 untuk dihormati.

Kewajiban dan sekaligus hak orang tua adalah menyajikan sebanyak mungkin contoh pilihan beserta alasan2nya, serta contoh teladan sehingga menjadi rangkaian sejarah yang akan dibaca oleh anak2.
Selebihnya anak-anak yang akan mengapresiasi sekaligus menjadikannya pustaka hidupnya kedepan.

Sebenarnyalah meski tekstur, warna dan corak setiap jaman tidak sama, tetapi kita bisa rangkai itu menjadi sebuah hamparan mozaik kehidupan satu dinasti yg indah permai.

Biarlah anak2 merenda jamannya sebagaimana kita orang tua juga telah dan sedang merendanya